Minggu, 27 November 2016

Nuansa Mistis Sumur Pitu, Petilasan Ki Ageng Pengging

Sumur 7
Bagi masyarakat Tawa Tengah, nama Ki Ageng Pengging bukanlah nama yang asing. Bagi para praja negara, Ki Ageng Pengging merupakan simbol keteguhan hati dalam membela keyakinan diri. Garis darah Majapahit mengalir kental dalam raga ksatria bernama asli Raden Kebo Kenanga ini. Menjadi bupati pengging setelah berhasil menemukan Ratu Pembayun yang diculik oleh Menak Daliputih. Ratu Pembayun adalah puteri dari Prabu Brawijaya V sedangkan Menak Daliputih adalah raja kerajaan Blambangan, Kerajaan yang sebelumnya dipimpin oleh Prabu Minak Jingga.  Di masa senjanya, Ki Ageng Pengging, Banyak melakukan tapa, petilasannya banyak tersebar di Jawa Tengah. Salah satu petilasan Ki Ageng Pengging di Kabupaten Blora adalah Petilasan Sumur Pitu di Kecamatan Banjarejo.
Sumur 7

Terletak di belakang SMP N 2 Mojowetan, Petilasan Sumur Pitu tersembunyi dari lalu lalang jalan desa Mojowetan, secara lengkap petilasan Sumur Pitu bertempat di Dukuh Wadas Desa Mojowetan Kecamatan Banjarejo, sepuluh menit dari pertigaan desa Mojowetan menuju desa Bacem Kecamatan Banjarejo. Ada baiknya bagi para pengunjung untuk bertanya pada masyarakat Mojowetan jika hendak mengunjungi petilasan Sumur Pitu ini.
Menurut penuturan Kang Gempur, Sekretaris Desa Mojowetan, Petilasan Sumur Pitu merupakan petilasan yang kental aura Keislaman dan Mistisme Jawa. Kerap kali upacara adat desa dan peringatan Muharoman / Suran diselenggarakan di tempat bersejarah ini. Kang Gempur berpesan, jika ingin merasakan kesakralan dari Petilasan Sumur Pitu, pengunjung disarankan untuk datang pada hari – hari yang ditentukan. Yaitu pada sepuluh hari pertama bulan Sura, serta pada malam Jum’at Legi setiap bulannya. Banyak pengunjung dari berbagai kota hadir pada hari itu. Paling sering adalah pengunjung dari kota Surakarta, Yogyakarta dan Grobogan. “Pernah juga, datang peziarah dari Bandung dan Surabaya. Mereka datang untuk kepentingan penelitian sejarah “ Jelas bapak tiga anak ini.

Pengalaman – pengalaman supranatural sering dialami oleh para pengunjung Petilasan Sumur Pitu. Kang Gempur menuturkan ada beberapa pantangan tidak tertulis yang harus ditinggalkan ketika para pengunjung berada di kompleks warisan Ki Ageng Pengging itu. Beberapa diantaranya adalah para peziarah dilarang untuk mengambil ikan di kolam yang terletak di tengah kompleks Petilasan Sumur Pitu. Pengunjung di larang untuk berkata kotor dan dilarang membuat gaduh di dalam petilasan, serta pengunjung dilarang membawa apapun dari petilasan. “Pelanggaran terhadap pantangan – pantangan itu bisa berdampak serius,” Jelas Alumnus Unigoro Fakultas Sosial Politik ini. Namun, para pengunjung tidak perlu khawatir dengan berbagai akibat – akibat dari pelanggaran pantangan itu. selama kedatangannya didasari dengan niat yang lurus.

Tanpa meninggalkan kesan mistisnya, Petilasan Sumur Pitu menyimpan keindahan dan sisi sejarah yang luar biasa. Sensasi kesejukan di bawah rimbun pepohonan yang berusia ratusan tahun akan pengunjung dapatkan seketika memasuki area petilasan bersejarah ini. Ada baiknya, para pengunjung meminta tokoh masyarakat desa Wadas untuk menemani aktivitas berkunjung ke Peninggalan sang Putera Majapahit ini.

Jeng Asih, Ratu Pembuka  Aura dari Gunung Muria

 



 Info & pemesanan:
Padepokan Metafisika Jeng Asih
Jl. Diponegoro 72, Pati – Jawa Tengah 
Jl. Melawai Raya 17, Blok M – Jakarta Selatan
            08129358989 – 08122908585 
    
          

Sabtu, 19 November 2016

Parangkusumo, Jejak Mistis Panembahan Senopati dan Kanjeng Ratu Kidul


Pantai Parangkusumo termasuk pantai selatan yang menjadi salah satu aset wisata milik Yogyakarta. Pantai Parangkusumo ini terletak di sebelah barat Pantai Parangtritis mempunyai keindahan alam yang tidak kalah dengan pantai Parangtritis. Selain itu di dekat pantai ini terdapat 2 batu karang yang sekelilingnya di pagar beton. Tempat yang dikeramatkan oleh penduduk sekitar tersebut dikenal dengan nama Cepuri. Cepuri Parangkusumo merupakan tempat yang penting untuk acara yang bersifat adat dan spiritual contohnya acara labuhan. Benda yang mau dilabuh harus dimasukan ke Cepuri dan didoakan oleh para juru kunci sebelum benda tersebut di buang kelaut. Keunikan budaya dan kemisteriusan pantai ini terus menjadi objek wisata menarik bagi wisatawan domestic maupun manca negara.
Pantai Parangkusumo Bantul dan Keraton Yogyakarta
Masyarakat Yogyakarta sampai saat ini meyakini adanya hubungan spesial antara Keraton Yogyakarta dengan penguasa pantai selatan, Nyi Roro Kidul. Hubungan spesial tersebut dimulai sejak pendiri mataram Panembahan Senopati. Dan di Pantai Parangkusumo lah hubungan spesial itu terjadi.
Pantai Parangkusumo merupakan salah satu pantai yang dikramatkan oleh penduduk sekitar kawasan Pantai Parangtritis, Kretek, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Dalam tradisi Jawa, pantai Parangkusumo ini dianggap sebagai gerbang utama atau jalan tol menuju Keraton Gaib Laut Selatan, sebuah kerajaan Nyi Roro Kidul yang menguasai Laut Selatan (Samudera Hindia).
Berbagai acara labuhan, baik dari Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat maupun dari masyarakat setempat digelar di pantai Parangkusumo. Ritual Labuhan Keraton di Pantai Parangkusumo merupakan simbol ikatan dan kekuasaan antara keraton dan penguasa laut selatan.
Berdasarkan cerita almarhum Mbah Nono panggilan akrab RP Suraksotarwono juru kunci sekaligus sesepuh warga Pantai Parangkusumo, labuhan kepada Kanjeng Ratu Kidul merupakan sebuah ritual yang penting bagi Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat.
Ratu Kidul berjanji untuk mengayomi Panembahan Senopati dan seluruh keturunannya dan Kerajaan Mataram ketika berada dalam kesulitan. Berdasarkan nasehat dari Ki Juru Mertani, Panembahan Senopati bermeditasi di Pantai Parangkusumo, sebuah pantai kecil di pinggiran Laut Selatan.
Meditasi yang luar biasa tersebut mengakibatkan “goro-goro” atau menimbulkan kekacauan di Kerajaan Segara Kidul (laut selatan). Kanjeng Ratu Kidul pun mendatangi penguasa Mataram tersebut dan mengatakan bahwa harapannya telah dikabulkan oleh Sang Maujud Agung.
Kemudian perjanjian antara Panembahan Senopati dan Kanjeng Ratu Kidul dibuat. Hubungan antara raja-raja Mataram dan Kanjeng Ratu Kidul telah memperkokoh legitimasi kebudayaan kepada Sri Sultan Hamengkubuono.
Mitor Pantai Parangkusumo jogja
Legenda Pantai Parangkusomo Bantul Yogyakarta
Cerita tersebut sampai sekarang masih dipercayai oleh masyarakat Yogyakarta. Sehingga masyarakat masih melakukan ritual di kawasan Cepuri sebagai tempat pertemuan antara Ratu Kidul dengan Panembahan Senopati dan juga di Kawasan Pantai Parangkusumo yang dipercaya merupakan keratonnya Ratu Kidul.
Meski hanya sebuah cerita yang turun temurun, masyarakat tetap melakukan semedi di Pantai Parangkusomo kata Mbah Nono. Pada tahun 1973 ketika akan diberi limpahan jabatan dari ayahnya, dia didampingi ayahnya melakukan semedi Pantai Parangkusmo.
Saat itu tiba-tiba air laut surut dan terlihat adanya sebuah kerajaan. Saat dia masuk, dari depan kerajaan terlihat seperti ada gerbang yang megah. Melewati gerbang terlihat bangunan seperti pendapa yang dilengkapi tiga tangga yang terbuat dari batu yang sangat indah dan sangat bersih.
Ketika ingin menaiki pendopo tiba-tiba sosok Ratu Kidul muncul. Seketika itu juga Mbah Nono langsung menundukkan wajah sebagai bentuk penghormatan bagi penguasa laut selatan.
Setelah sekian lama tertunduk, tiba-tiba Ratu Kidul menjamah kepala Mbah Nono seraya mengatakan untuk menerima tanggung jawab yang diberikan ayahnya, menjadi penerus juru kunci Cepuri. Melalui pengalaman gaib itulah dia menerima tanggung jawab sebagai juru kunci Cepuri, tempat pertemuan antara Panembahan Senopati dengan Ratu Kidul.
Mitos  Pantai Parangkusumo Bantul YogyakartaSebagai juru kunci Cepuri, kakek yang telah dikarunia empat cucu ini menyatakan, terdapat dua tempat lokasi untuk melakukan ziarah yaitu di Batu Besar yang disebut Sela Ageng dan Batu Sengker atau batu gilang. Di lokasi Sela Ageng inilah pertama kali Penembahan Senopati melakukan semedi. Namun karena tidak nyaman, maka Panembahan Senopati berpindah tempat ke lokasi batu sengker (batu kecil) yang lokasinya di bagian selatan Sela Ageng.
Saat bersemedi di batu kecil (Batu sengker) inilah Panembahan Senopati bertemu dengan Ratu Kidul yang ceritanya Ratu Kidul bersedia membantu dan mengamankan kerajaannya beserta keturunan Penembahan Senopati (Raja Keraton Yogyakarta). Dengan janji dari Ratu Kidul itulah sampai sekarang ritual Labuhan yang dimulai dari doa di sela sengker hingga dan berakhir dengan Labuhan di Kawasan Pantai Parangkusumo masih terus dilestarikan. Sampai kini, ritual tersebut sudah masuk menjadi agenda budaya dan wisata di Pantai Parangkusumo, Kretek, Bantul, Yogyakarta.
Lokasi Pantai Parangkusumo Yogyakarta
Sebagai pantai yang masih berada satu kawasan dengan Pantai Parangtritis, maka tidak heran bila anda bisa mendapatkan dobel pantai karena bila anda berjalan ke arah timur, Pantai Parangtritis pun telah menyambut anda. Dengan berjalan kaki atau menaiki kereta kuda seharga Rp20.000 saja, anda dapat menikmati Pantai Parangtritis.
Hanya saja, Pantai Karangkusumo ini memang lebih dikhususkan untuk upacara adat karena disini terdapat sebuah Batu Cinta yang berada di Puri Cepuri dan dipercaya sebagai tempat duduk Panembahan Senopati di sebuah batu besar dan Ratu Laut Selatan yang duduk di sebuah batu yang ukurannya lebih kecil. Sekarang tempat ini dipagar beton bercat putih dan akan dibuka sewaktu-waktu untuk upacara adat Labuhan Alit Parangkusumo.
Batu Cinta di Puri Cepuri Pantai Parangkusumo
Karena saat itu permohonan Panembahan Senopati untuk dapat memimpin Kerajaan Mataram dan melindungi rakyatnya berhasil diwujudkan, maka tidak heran bila banyak orang yang percaya bila berdoa didepan Batu Cinta, maka keinginannya akan terkabul. Sebagian besar dari mereka juga percaya bahwa jika berdoa disana, maka segala beban berat yang dipikul akan terasa lebih ringan dan semangat untuk melanjutkan hidup pun akan semakin membara. Walaupun ini hanya mitos, anda dapat saja datang berkunjung sambil melihat-lihat kawasan Puri Cepuri dimana dua batu besar itu berjejer saling berhadapan sekedar untuk tahu saja.
Dan sebagai tempat ziarah, maka anda jangan heran bila wangi kembang setaman dan bau kemenyan dapat terhirup oleh hidung anda. Jika anda tidak tahan dengan baunya, anda dapat menikmati suasana pantai saja sambil menyambut ombak yang datang silih berganti. Selamat berlibur.


Jeng Asih, Ratu Pembuka  Aura dari Gunung Muria



                                         
Info & pemesanan:
Padepokan Metafisika Jeng Asih
Jl. Diponegoro 72, Pati – Jawa Tengah 
Jl. Melawai Raya 17, Blok M – Jakarta Selatan
08129358989 – 08122908585     

            https://djengasih.com/blog/intan-kencana          

Jumat, 18 November 2016

Candi Jolotundo, Monumen Cinta Kasih Raja Udayana

Candi Petirtaan Jalotundo
 Candi Jolotundo terletak di lereng utara Gunung Penanggungan, Desa Seloliman, Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto. Jarak dari kota Surabaya ± 55 Km, dapat dicapai dengan kendaraan pribadi roda 2 maupun roda 4.

Candi Jolotundo
Candi lolotundo merupakan bangunan petirtaan yang dibuat pada zaman Airlangga ( Kerajaan Kahuripan ). Berukuran panjang: 16,85 m, lebar: 13, 52 m dan kedalaman: 5, 20 m. Terbuat dari batu andesit yang dipahat halus. Dua data sejarah yang sangat penting yang berhubungan dengan kepurbakalaan ini adalah angka 997 M yang dipahatkan di sebelah kanan dan tulisan Yenpeng di sebelah kiri dinding belakang.

Candi ini merupakan monumen cinta kasih Raja Udayana untuk menyambut kelahiran anaknya, Prabu Airlangga, yang dibangun pada tahun 997 M. Sumber lain menyebutkan bahwa candi ini adalah tempat pertapaan Airlangga setelah mengun-durkan diri dari singgasana dan diganti anaknya.
Candi Jolotundo
Keunikan petirtaan ini adalah debit airnya yang tidak pernah berkurang meskipun musim kemarau. Berdasarkan penilitian, kualitas airnya terbaik di dunia dan kandungan mineralnya sangat tinggi. Pada hari-hari tertentu dij adikan tempat ri tual bagi sebagian orang untuk mencari keberkahan.
Di sekitar candi, disediakan pendopo dan gazebo untuk menikmati sua sana sejuk dan nyaman. Kawasan lolotundo juga dapat dijadikan titik awal menuju 17 candi lain yang tersebar di sepanjang jalur pendakian Gunung Penang-gungan. Lebih kurang 1 km sebelum candi lolotundo terdapat Pusat Pendidikan Lingkungan Hidup (PPLH) Seloliman.
   
 Jeng Asih, Ratu Pembuka  Aura dari Gunung Muria




Info & pemesanan:
Padepokan Metafisika Jeng Asih
Jl. Diponegoro 72, Pati – Jawa Tengah 
Jl. Melawai Raya 17, Blok M – Jakarta Selatan
  08129358989 – 08122908585
     

          

                                            

Situs Menggung, Petilasan Airlangga Mengasingkan Diri

Situ sCandi Menggung
Situs Menggung ini merupakan tempat yang 
unik. Situsnya sendiri seperti punden berundak dan mengingatkan kita akan Candi Kethek. Jika di candi Kethek kita tak bisa menemukan adanya relief atau arca, maka disini kita bisa menemukan banyak arca yang tersebar di situs ini.
Situs Candi Menggung

Situs Menggung berada di  Desa Nglurah, Kecamatan Tawangmangu, Kabupaten Karanganyar, Provinsi Jawa Tengah. Jaraknya sekitar 2 kilometer dari Grojogan Sewu. Jangan heran jika sepanjang perjalanan menuju Situs Menggung kita akan menjumpai banyak sekali kios tanaman hias. Desa Nglurah memang terkenal akan sentranya tanaman hias di Tawangmangu.

Seunik candi lainnya di Gunung Lawu yang berbetuk punden berundak. Situs Menggung terdiri atas tiga teras. Di teras pertama kita hanya akan menemukan empat buah patung dwarapala yang menjaga tangga menuju teras kedua. Selain sudah aus, patung dwarapala ini sendiri unik karena salah satu patungnya dipahat dua arah, depan dan belakang, persis seperti arca di Candi Ceto.

Tempayan
Teras kedua sangat luas. Disini terdapat bebatuan yang ditumpuk – tumpuk dan membentuk bidang persegi di beberapa tempat. Pada bidang persegi tersebut terlihat beberapa batu dengan bagian atas yang datar seperti umpak, itu berarti dulu terdapat rumah panggung di situs ini, seperti di Candi Ceto. Lanjut menuju teras ketiga, sebelumnya kita akan menjumpai sepasang arca dwarapala di kaki tangga. Di teras ketiga terdapat pohon yang teramat sangat besar yang ditutupi kain bermotif kotak dan kain kuning. Diatara akarnya yang besar kita dapat melihat sebuah arca kecil yang sudah rusak.

Di ujung teratas teras ketiga terdapat sebuah tembok yang mengelilingi dua arca yang menjadi pusat Situs Menggung ini. Kedua arca dalam tembok ini yang bisa dibilang paling utuh dibanding arca lainnya di Situs ini. Arca yang lebih pendek dikenal dengan sebutan Kyai Menggung dan arca yang paling tinggi [juga merupakan arca tertinggi di Situs ini] disebut Nyi Rasa Putih. Di bawah arca Nyi Rasa Putih terdapat sebuah batu yang memuat satu – satunya relief di situs ini. Tak diketahui makna relief ini karena hanya sepotong saja.

Satu – satunya petunjuk yang menandakan kalau situs ini merupakan peninggalan Hindu adalah adanya yoni yang terbalik di pelataran teras dua. Yoni di situs ini sendiri sangat unik karena bentuknya bulat. Tak ada papan informasi di situs ini, bahkan pos penjaga di bawah situs kosong melompong. Tak ayal, internet merupakan satu – satunya sarana untuk menggali informasi tentang situs ini. 

Kata Menggung  didapat dari Kyai Menggung yang diyakini merupakan julukan Narotama, putra Bali yang jadi pengikut Raja Airlangga. Dia mengembara ke Nglurah untuk mendekatkan diri ke Hyang Widhi. Dari perbuatannya ini, kata Menggung pun didapat yang berarti  “melengake marang Gusti Kang Maha Agung” (memusatkan segala perhatian kepada Tuhan Yang Maha Agung).


Jeng Asih, Ratu Pembuka  Aura dari Gunung Muria



   
                                                            Info & pemesanan:
Padepokan Metafisika Jeng Asih
Jl. Diponegoro 72, Pati – Jawa Tengah 
Jl. Melawai Raya 17, Blok M – Jakarta Selatan
08129358989 – 08122908585   

                                      

Mengenang Jejak Prabu Airlangga Raja Pertama Kahuripan

 Prabu Airlangga, adalah raja pertama Kerajaan Kahuripan, yang dibangun dari sisa-sisa reruntuhan Kerajaan Medang akibat serbuan Sriwijaya. Beliau memerintah antara tahun 1028 - 1035. Ia disebutkan sebagai seorang yang memerintah Mpu Kanwa untuk menulis Kakawin Arjunawiwaha. Namanya diabadikan sebagai nama salah satu universitas negeri di Surabaya.

Airlangga merupakan putera pasangan Mahendradatta (puteri dari Dinasti Isyana, Medang) dan Udayana (raja Dinasti Warmadewa, Bali). Ia dibesarkan di istana Watugaluh (Kerajaan Medang) di bawah pemerintahan raja Dharmawangsa. Waktu itu Medang menjadi kerajaan yang cukup kuat, bahkan mengadakan penaklukan ke Bali, mendirikan koloni di Kalimantan Barat, serta mengadakan serangan ke Sriwijaya.

Pada tahun 1006, ketika Airlangga berusia 16 tahun, Sriwijaya mengadakan pembalasan atas Medang. Wurawari (sekutu Sriwijaya) membakar Istana Watugaluh, Dharmawangsa beserta bangsawan tewas dalam serangan itu. Airlangga berhasil melarikan diri ke hutan, dan menjadi pendeta (pertapa), ditemani oleh pengawalnya, Narotama. Salah satu bukti petilasan Airlangga sewaktu dalam pelarian dapat dijumpai di Sendang Made, Kudu - Jombang (Jawa Timur).

Setelah beberapa tahun berada di hutan, akhirnya pada tahun 1019, Airlangga berhasil mempersatukan wilayah kerajaan Medang yang telah pecah, membangun kembali kerajaan, dan berdamai dengan Sriwijaya. Kerajaan baru ini dikenal dengan Kerajaan Kahuripan, yang wilayahnya membentang dari Pasuruan di timur hingga Madiun di barat. Airlangga dikenal sebagai model toleransi beragama, sebagai pelindung agama Hindu Syiwa dan Buddha. Airlangga memperluas wilayah kerajaan hingga ke Jawa Tengah dan Bali. Pada tahun 1025, Airlangga memperluas kekuasaan dan pengaruh Kahuripan seiring dengan melemahnya Sriwijaya. Pantai utara Jawa, terutama Surabaya dan Tuban, menjadi pusat perdagangan yang penting untuk pertama kalinya.

Di bawah pemerintahan Airlangga, seni sastra berkembang. Tahun 1035, Mpu Kanwa menggubah kitab Arjuna Wiwaha, yang diadaptasi dari epik Mahabharata. Kitab tersebut menceritakan Arjuna, rinkarnasi Wisnu yang tak lain adalah kiasan Airlangga sendiri. Kisah Airlangga digambarkan dalam Candi Belahan di lereng Gunung Penanggungan.

Pada akhir hayatnya, Airlangga berhadapan dengan masalah suksesi. Pewarisnya, Sanggramawijaya, memilih menjadi pertapa ketimbang menjadi suksesor Airlangga. Ia dikaitkan dengan legenda Dewi Kilisuci dan Gua Selomangleng di Gunung Klothok, 5 KM arah barat kota Kediri. Pada tahun 1045, Airlangga membagi Kahuripan menjadi dua kerajaan untuk dua puteranya: Janggala dan Kadiri. Airlangga sendiri menjadi pertapa, dan meninggal tahun 1049



Jeng Asih, Ratu Pembuka  Aura dari Gunung Muria




Info & pemesanan:
Padepokan Metafisika Jeng Asih
Jl. Diponegoro 72, Pati – Jawa Tengah 
Jl. Melawai Raya 17, Blok M – Jakarta Selatan
08129358989 – 08122908585      


                                           
                                         

Petilasan Sri Aji Jayabaya, Sarat Histori dan Nuansa Mistik


Petilasan Pamoksan Sri Aji jayabaya
Jejak Raja Peramal di Menang Pagu ini menceritakan banyak hal. Tiga fase perjalanan Sang Prabu menuju moksa.
Petilasan Sri Ajijayabaya merupakan destinasi yang sarat makna histori. Di situs budaya ini, anda akan diajak untuk mengenang kebesaran Sang Prabu yang dikenal dengan ramalannya “Jongko Joyoboyo” ini. Destinasi utama di situs ini adalah tiga loka yang menjadi fase moksa (menghilangnya) Sri Aji Jayabaya.

Petilasan ini terletak 6 Km sebelah utara Simpang Lima Gumul, Kabupaten Kediri. Tepatnya, di Desa Menang, Kecamatan Pagu. Di Simpang Lima Gumul, ikuti jalur ke utara. Banyak rambu yang menunjukkan arah menuju ke Petilasan Sri Aji Jayabaya.
Di gerbang masuk Pamuksan Sri Aji Joyoboyo ada tulisan berbunyi “Mustika Pamenang, Petilasan Sang Prabu Sri Adji Djojobojo”.
Setelah memasuki pintu gerbang masuk Pamuksan Sri Aji Jayabaya, terdapat sebuah pendopo. Ada sebuah tengara yang menceritakan tentang pemugaran situs Pamuksan Sri Aji Joyoboyo ini oleh Keluarga Besar Hondodento dari Yogyakarta.
Mahkota Sri Aji Jayabaya
Mulanya, situs Petilasan Sri Aji Jayabaya ini hanya berbentuk sebuah gundukan tanah. Sampai suatu saat, di tahun 1860, seorang penduduk Desa Menang bernama Warsodikromo bermimpi bahwa di area gundukan tanah itu pernah hidup seorang raja Kediri yang bernama Jayabaya. Warga meyakini, jika inilah tempat moksa (menghilangnya) Sang Prabu. Maka, mulai diberi bangunan sebagai penanda. Karena itu, petilasan ini juga disebut pamoksan Sri Aji Jayabaya.
Pemugaran situs Petilasan Sri Aji Jayabaya yang memiliki luas 1.650 meter persegi ini dilakukan oleh Keluarga Besar Hondodento pada 22 Februari 1975 dan diresmikan pada 17 April 1976.
Bangunan di tengah situs inilah yang dipercaya sebagai tempat moksa Sang Prabu. Tiga loka mewakili fase moksa Jayabaya. Loka Makuta berarti tempat pelepasan mahkota raja, Loka Busana adalah tempat singgah busana Sang Prabu, dan Loka Moksa merupakan tempat muksa atau hilangnya Jayabaya bersama jasadnya.
Loka Busana terletak di samping Loka Moksa dengan ornamen indah. Loka Makuta justru terletak terpisah di belakang Pamuksan Sri Aji Joyoboyo  dengan bentuk mahkota raja di bagian tengahnya.
Petilasan Sri Aji Jayabaya
Loka Moksa di tengah situs menjadi bangunan utama di Petilasan Jayabaya. Tiga buah pintu di Loka Moksa melambangkan tiga tahap kehidupan manusia yang dimulai dari lahir, dewasa lalu mati. Terdapat lingga dan yoni yang menyatu dengan sebuah batu bulat berlubang.
Bahkan, konon jiwa Sang Raja masih berada di tempat itu. Tak heran, jika di pamoksan ini banyak orang dari berbagai kota ditemui melakukan tirakat untuk mengalap berkah. Memiliki memiliki keyakinan pamoksan ini memiliki tuah. Bahkan, pada satu syuro juga dilakukan ritual Kirab Agung Jayabaya.
Sri Aji Jayabaya adalah Raja Kediri yang memerintah antara 1135-1157. Ia berhasil menyatukan kembali Jenggala yang dipisahkan oleh Airlangga, Raja Kahuripan, pada 1042 saat Airlangga turun tahta dan menjadi pendeta dengan gelar Resi Aji Paduka Mpungku Sang Pinaka Catraning Bhuwana (Prasasti Gandhakuti, 1042).
Sri Aji Jayabaya terkenal dengan kitab “Jongko Joyoboyo” yang berisi ramalan-ramalan kejadian di Pulau Jawa sejak jaman Aji Saka sampai sampai datangnya hari kiamat. Naskah yang didalamnya berisi “Ramalan Joyoboyo” diantaranya adalah Serat Jayabaya Musarar dan Serat Pranitiwakya. Jayabaya turun takhta pada usia tua dan dipercayai moksa dimana Pamuksan Sri Aji Joyoboyo kini berada.  
                                           
                                  Jeng Asih, Ratu Pembuka  Aura dari Gunung Muria




 Info & pemesanan:
Padepokan Metafisika Jeng Asih
Jl. Diponegoro 72, Pati – Jawa Tengah 
Jl. Melawai Raya 17, Blok M – Jakarta Selatan
08129358989 – 08122908585    



Petilasan Sunan Kalijaga Dihuni Dua Kerajaan Kera

Petilasan Sunan Kalijaga Plangon

Sampai saat ini masyarakat Cirebon belum sepenuhnya mengetahui asal usul peninggalan sejarah yang ada di lingkungannya. Salah satunya situs petilasan Sunan Kalijaga.

Di kawasan tersebut ternyata memiliki banyak keistimewaan dan legenda yang hingga saat ini masih dipercaya masyarakat.  Situs taman kera Kalijaga terletak di wilayah Kelurahan Kalijaga, Kecamatan Harjamukti, Kota Cirebon, Jawa Barat. Dari terminal bus Harjamukti atau bandara udara Penggung Cirebon jaraknya hanya berkisar 600 meter ke arah Selatan.

Kawasan petilasan Sunan Kalijaga ini memiliki luas 120.000 meter persegi. Kawasan ini dilalui dua aliran sungai yang masing-masing mempunyai dua sampai tiga nama yang berbeda. Sungai dimaksud adalah Kali Simandung dan Kali Masjid, yang alirannya kemudian bertemu di Kali Cawang. Kali ini oleh masyarakat setempat digunakan untuk mandi dam cuci pakaian. Dahulu kala, kali ini juga dapat digunakan untuk wudu.

Pada kawasan itu terdapat bangunan petilasan, sumur kuno, masjid keramat, makam dan selebihnya berupa semacam hutan lindung yang dihuni kera. Bangunan petilasan Kalijaga oleh penduduk setempat disebut Pesarean (dari kata Jawa yang berarti tempat beristirahat). Bangunan ini berdenah bentuk huruf L terdiri tiga ruangan. Ruangan pertama merupakan tempat bagi para peziarah untuk memanjatkan doa, yang dapat dimasuki melalui pintu pertama yang disebut  pintu bacem.

Ruang kedua merupakan tempat beberapa makam kuno, dan ruangan ketiga merupakan bekas tempat tidur Sunan Kalijaga yang ditutup dengan kelambu. Pada sebelah barat bangunan terdapat makam pengikut dan kerabat Sunan Kalijaga. Bagian ini dibatasi dengan dengan kuta kosod (susunan bata merah) setinggi 1.120 cm dan tebal 190 cm.

Konon menurut sejarah, ketika Cirebon dikuasai Belanda, lokasi ini pernah dijadikan tempat pertemuan para panglima perang Kesultanan Kanoman, Kasepuhan, dan Mataram untuk menyusun strategi melawan mereka. Bangunan masjid keramat di kompleks petilasan Sunan Kalijaga dahulu dindingnya terbuat dari kayu dan aber atap daun kelapa.

Sekarang sudah diganti dengan dinding bata diplester dan beratap genting. Di pinggir kali dekat masjid terdapat sumur kuno. Konon sumur kuno ini umurnya sudah mencapai ratusan tahun. Sumur ini juga disebut sumur wasiat.

Di dekat Kali Simandung terdapat makam keramat dengan tokoh yang dimakamkan adalah Syekh Khotim. Beliau adalah kepercayaan Sunan Kalijaga.

Hutan lindung di kawasan petilasan Sunan Kalijaga, ditumbuhi beberapa jenis pohon besar, seperti bebang, repilang, rengas, dan albasia. Kerimbunan pepohonan ini mendominasi pemandangan. Pada rindangnya pepohonan tersebut dihuni sekitar 77 ekor kera buntut panjang. Pada pagi hari mereka turun, dan duduk berbaris di tepi kali. Kera-kera ini akan turun, jika ada pengunjung, terutama yang terlihat membawa makanan.

Tradisi setempat meyakini bahwa kera-kera tersebut berasal dari jelmaan pada pengikut Sunan Kalijaga yang tidak mematuhi ajaran Rasulullah. Uniknya kera-kera tersebut seakan-akan mengerti akan batas wilayah mereka. Kera-kera dari kelompok selatan tidak mau membaur dengan kera-kera dari kelompok utara dan begitu pula sebaliknya.

Pada waktu-waktu tertentu, merekapun terlibat dalam tawuran. Mereka berteriak-teriak seakan-akan saling mengejek lalu baku hantam dan baku gigitpun terjadi. Tidak jarang perkelahian antar kelompok ini dapat menimbulkan kematian yang tragis.

Situs Taman Kera dan Petilasan Sunan Kalijaga di Cirebon ini diperkirakan sudah ada mulai abad ke-17. Masyarakat setempat mempercayai bahwa situs ini merupakan petilasan Sunan Kalijaga ketika sang Sunan melaksanakan kegiatan penyebaran agama Islam di daerah Cirebon. Hutan Kalijaga merupakan satu-satunya wilayah konservasi hutan yang masih tersisa di Cirebon.

Hingga saat ini belum ada yang berani mencuri atau membawa kera-kera di hutan petilasan Sunan Kalijaga ini karena masyarakat percaya akan mendapat kualat atau mendapat sial. Menurut penjaga petilasan, Miskad (48 tahun), situs Kalijaga tersebut ramai dikunjungi warga pada saat ngabuburit di bulan puasa.

"Hampir setiap hari ada rombongan peziarah dari luar kota seperti Jakarta, Bandung, bahkan dari pulau Jawa. Kalau pengunjung lokal biasanya hanya ramai berkunjung saat ngabuburit di bulan puasa," katanya.

Jeng Asih, Ratu Pembuka  Aura dari Gunung Muria




 Info & pemesanan:
Padepokan Metafisika Jeng Asih
Jl. Diponegoro 72, Pati – Jawa Tengah 
Jl. Melawai Raya 17, Blok M – Jakarta Selatan

08129358989 – 08122908585